
SUMEDANG – Karya-karya maestro karawitan Sunda Mang Koko dinilai tidak hanya memiliki nilai seni dan budaya, tetapi juga menjadi media pendidikan lingkungan yang relevan hingga saat ini. Hal tersebut disampaikan Sumirta, salah seorang pegiat lingkungan dari Bapperida Kabupaten Sumedang, saat diwawancarai mengenai makna ekologis dalam karya-karya Mang Koko.
Menurut Sumirta, banyak lagu ciptaan Mang Koko yang menggambarkan hubungan harmonis antara manusia dengan alam. Melalui syair dan melodi, Mang Koko mengajarkan masyarakat untuk mencintai tanah, gunung, hutan, sungai, pepohonan, serta seluruh unsur alam sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan.
“Karya-karya Mang Koko mengandung pesan yang sangat kuat tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan. Nilai-nilai itu disampaikan melalui pendekatan budaya sehingga mudah diterima dan tertanam dalam diri masyarakat, terutama generasi muda,” ujar Sumirta.
Ia menjelaskan, di tengah berbagai tantangan lingkungan seperti kerusakan hutan, berkurangnya daerah resapan air, hingga dampak perubahan iklim, pendekatan berbasis budaya memiliki peran penting dalam membangun kesadaran masyarakat. Menurutnya, kepedulian terhadap lingkungan akan lebih kuat apabila diawali dengan rasa cinta terhadap alam.
Sumirta menilai lagu-lagu seperti Tanah Sunda tidak hanya membangkitkan rasa bangga terhadap daerah, tetapi juga mengingatkan bahwa tanah merupakan warisan yang harus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya dalam kondisi tetap lestari.
Ia berharap warisan budaya Mang Koko terus dikenalkan melalui dunia pendidikan, kegiatan seni, maupun berbagai program pelestarian lingkungan. Dengan demikian, nilai-nilai kearifan lokal dapat menjadi bagian dari upaya mewujudkan pembangunan berkelanjutan di Kabupaten Sumedang.
“Pelestarian lingkungan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga menjadi tanggung jawab seluruh elemen masyarakat. Budaya dan seni dapat menjadi jembatan untuk menumbuhkan kesadaran itu,” pungkasnya.
Laporan oleh: Mahdi – Rumah Literasi BERSERI